Minat Anak Muda Tumbuh, DKPP Sumenep Bidik Perluasan Areal Tembakau 2026

Radar9
20 Agu 2026 17:27
3 menit membaca

SUMENEP – Sektor pertanian di Kabupaten Sumenep mulai menunjukkan geliat baru. Meningkatnya minat masyarakat, termasuk generasi muda, untuk kembali menggeluti usaha tani menjadi salah satu modal pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan luas areal tanaman tembakau pada musim tanam 2026.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, mengatakan, tren tersebut terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang bergabung dalam kelompok tani di sejumlah kecamatan.

Menurutnya, perubahan pandangan generasi muda terhadap sektor pertanian menjadi perkembangan positif. Pertanian kini mulai dipandang bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi sebagai sektor usaha yang memiliki prospek apabila dikelola dengan teknologi dan perencanaan yang tepat.

“Animo anak muda bertani sekarang mulai tumbuh. Banyak yang melihat pertanian itu punya masa depan, apalagi didukung teknologi dan harga komoditas yang stabil,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).

DKPP Sumenep mencatat, luas areal tanaman tembakau pada 2024 berada di kisaran 18.000 hektare. Namun, angka tersebut mengalami penurunan menjadi sekitar 14.000 hektare pada 2025.

Pemerintah daerah berharap tren penurunan tersebut dapat berbalik pada musim tanam 2026. Potensi penambahan areal masih terbuka, khususnya pada kawasan pegunungan dan lahan tegal yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian tembakau.

Sejumlah petani juga telah mulai mempersiapkan musim tanam melalui penyemaian benih. Kondisi itu menjadi indikator awal bahwa aktivitas pertanian tembakau mulai kembali bergerak di sejumlah wilayah.

Untuk mendukung petani, DKPP menyiapkan pendampingan melalui tenaga penyuluh pertanian, sekaligus sejumlah program pendukung untuk meningkatkan kesiapan petani menghadapi musim tanam.

“Kami sudah siapkan bimbingan teknis, benih unggul, dan skema asuransi pertanian,” kata Chainur.

Meski minat petani meningkat, perluasan areal tembakau tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan dan jumlah petani. Faktor cuaca, biaya produksi, produktivitas tanaman hingga kepastian pasar tetap menjadi pertimbangan utama sebelum petani menentukan komoditas yang akan ditanam.

DKPP berharap kondisi musim kemarau 2026 berlangsung normal. Cuaca yang mendukung dinilai penting untuk menjaga kualitas tanaman hingga memasuki masa panen.

“Kami berharap cuaca mendukung dan bersahabat sehingga hasil tembakau bagus dan dapat diterima pasar,” ujar Chainur.

Tembakau selama ini menjadi salah satu komoditas strategis pertanian di Madura, termasuk Kabupaten Sumenep. Karena itu, peningkatan luas tanam perlu berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi, serta penguatan posisi tawar petani.

Bagi pemerintah daerah, tumbuhnya kembali minat generasi muda terhadap pertanian menjadi peluang untuk memperkuat regenerasi petani sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Sumenep.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertanian mampu memberikan pendapatan yang layak serta perlindungan terhadap berbagai risiko produksi.

Dengan demikian, realisasi perluasan areal tembakau Sumenep pada 2026 akan ditentukan oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari kesiapan petani dan dukungan pemerintah hingga kondisi iklim, produktivitas serta perkembangan harga komoditas di pasar.

(Fan’s/Redaksi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *