Potret: Ketua JSI Igusty Madani saat kegiatan Pengukuhan JSI di Ballroom MyZee Hotel Sumenep, Selasa (15/9/2026).SUMENEP – Persoalan tumpahan cairan yang diduga BBM jenis solar di jalur Manding bukan lagi sekadar masalah jalan licin. Kemunculan tumpahan secara berulang di sejumlah titik justru memunculkan pertanyaan lebih serius: dari mana sumber solar tersebut dan mengapa persoalan yang sama terus terjadi?
Jurnalis Sumenep Independen (JSI) meminta pemerintah daerah bersama aparat dan instansi terkait tidak berhenti pada pembersihan badan jalan. Sumber tumpahan dinilai perlu ditelusuri agar persoalan keselamatan pengguna jalan tidak terus berulang.
Tiga titik yang menjadi perhatian berada di selatan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Desa Giring, depan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Lalangon, serta sebelah utara pabrik air di Desa Kebunan.
Kondisi tersebut diduga membuat permukaan jalan licin dan meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang melintas pada pagi hari ketika keberadaan cairan di badan jalan tidak selalu terlihat.
Di tengah laporan tumpahan yang berulang tersebut, muncul dugaan bahwa ceceran BBM bisa berkaitan dengan aktivitas pengisian solar secara berlebihan atau over capacity.
Dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui penelusuran di lapangan, termasuk terhadap kendaraan, aktivitas pengisian, maupun sumber lain yang berpotensi menyebabkan solar tercecer ke badan jalan.
Jika benar terdapat aktivitas pengisian atau distribusi BBM yang menyebabkan tumpahan berulang, persoalannya tidak lagi semata-mata menyangkut kebersihan jalan, tetapi juga menyentuh aspek keselamatan lalu lintas dan kepatuhan terhadap ketentuan distribusi maupun penanganan BBM.
Salah seorang warga Manding, Mastuki, mengaku memilih memperlambat laju kendaraannya ketika melintasi sejumlah titik tersebut karena mengetahui adanya potensi bahaya.
“Saya kalau masuk kerja pelan-pelan lewat di sana, Mas. Karena saya sudah tahu di jalan tersebut sering rawan ada tumpahan solar,” ujarnya, Rabu malam (30/09/2026).
Keluhan serupa disampaikan warga Manding lainnya, Jhon. Sekitar satu bulan lalu, ia mengaku mengalami kecelakaan tunggal di kawasan sebelah utara pabrik air, Desa Kebunan, saat mengantarkan anaknya bersekolah pada pagi hari.
Menurut Jhon, permukaan jalan saat itu licin dan terdapat cairan yang diduga menyerupai solar. Ia mengalami luka cukup parah dan tangannya keseleo. Anak dan istrinya yang turut dalam perjalanan juga ikut terjatuh.
“Saya waktu mengantarkan anak sekolah pada pagi hari di utara pabrik air. Jalannya licin karena solar. Untung saja anak dan istri saya tidak sampai mengalami luka parah,” ungkap Jhon saat ditemui pada Minggu pagi (16/8/2026).
Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian dari Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Sumenep, M. Muhri, S.Th.I. Ia menyatakan akan berkoordinasi dengan instansi terkait apabila hasil pengecekan di lapangan menunjukkan perlunya penanganan maupun pemasangan rambu peringatan.
“Kami akan segera koordinasi dengan pihak Disperkimhub dan Polresta Sumenep apabila memang dianggap penting dan perlu adanya rambu-rambu,” kata M. Muhri saat dikonfirmasi Redaksi melalui WhatsApp, Kamis (01/10/2026).
Muhri juga menyampaikan rencana turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya sekaligus memetakan titik-titik yang dinilai rawan.
“Selanjutnya kami akan turun langsung ke lokasi untuk melihat titik mana saja dan melakukan kajian,” imbuhnya.
Ia turut mengingatkan kendaraan yang menggunakan BBM jenis solar agar memperhatikan kapasitas pengisian sehingga tidak terjadi tumpahan yang dapat membahayakan pengguna jalan.
Sementara itu, Ketua Jurnalis Sumenep Independen (JSI), Igusty Madani, meminta persoalan tersebut tidak berhenti pada penanganan dampak. Menurutnya, sumber tumpahan harus menjadi bagian penting dalam penelusuran.
“JSI meminta persoalan ini segera menjadi atensi bersama. Jangan menunggu sampai terjadi korban berikutnya baru dilakukan penanganan. Tiga titik yang dilaporkan warga perlu segera dicek di lapangan dan dicari sumber persoalannya,” tegas Igusty.
Ia menilai, apabila tumpahan tersebut memang terjadi berulang, perlu ditelusuri apakah terdapat pola tertentu yang menjadi penyebabnya, termasuk kemungkinan aktivitas pengisian BBM secara berlebihan.
“Kalau memang ditemukan tumpahan BBM yang berulang, jangan hanya dibersihkan. Sumbernya harus dicari. Apakah berasal dari kendaraan tertentu, aktivitas pengisian yang berlebihan, atau sumber lainnya. Itu yang harus dipastikan,” ujarnya.
Menurut Igusty, dugaan adanya aktivitas BBM yang tidak sesuai ketentuan juga perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan koordinasi dengan pihak berwenang. JSI tidak ingin dugaan tersebut menjadi kesimpulan sebelum ada hasil penelusuran.
“Jangan sampai dugaan dibiarkan menjadi dugaan. Kalau ada indikasi aktivitas BBM yang tidak sesuai ketentuan, silakan pihak berwenang melakukan pemeriksaan. Yang jelas, keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah, legislatif, kepolisian, Disperkimhub, serta instansi terkait perlu duduk bersama untuk memastikan persoalan tersebut tidak kembali terjadi.
“Yang harus dicari bukan hanya siapa yang membersihkan tumpahannya, tetapi siapa atau apa yang menyebabkan tumpahan itu terus muncul. Kalau sumbernya tidak diselesaikan, jalan akan tetap menjadi titik rawan bagi pengguna,” pungkasnya.
(Nu/Redaksi)
Tidak ada komentar