Jaga Daya Saing Tembakau Lokal, DKPP Sumenep Terapkan Monitoring Ketat Pembibitan Prancak 95 Sejak Fase Persemaian

Radar9
29 Jul 2026 16:50
2 menit membaca

SUMENEP – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep mengambil langkah preventif strategis demi mempertahankan dominasi tembakau varietas lokal Prancak 95 di pasar nasional maupun internasional.

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, memimpin langsung monitoring dan evaluasi (monev) intensif di lokasi persemaian pada Rabu (29/7/2026), menegaskan bahwa kualitas bibit adalah fondasi utama produktivitas dan mutu panen tahun ini.

Peninjauan teknis ini tidak sekadar bersifat administratif, melainkan audit lapangan terhadap kepatuhan standar budidaya. Chainur Rasyid memeriksa secara detail kondisi fisik persemaian, laju pertumbuhan bibit, hingga kesiapan infrastruktur lahan.

Dialog dua arah dengan petani dan petugas pendamping lapangan juga dilakukan untuk mengidentifikasi kendala teknis secara real-time, memastikan intervensi pemerintah tepat sasaran sebelum musim tanam dimulai.

“Kami melakukan monitoring ini demi menjaga kualitas bibit agar tetap terjaga dengan baik. Bibit yang sehat dan unggul merupakan faktor penentu utama yang akan menentukan tingkat produktivitas sekaligus mutu hasil tembakau Sumenep nantinya,” ujar Chainur Rasyid.

Varietas Prancak 95 bukan hanya komoditas pertanian biasa, melainkan aset ekonomi bernilai tinggi yang menjadi identitas agraris Sumenep. Chainur menekankan bahwa degradasi kualitas pada fase pembibitan dapat berdampak domino pada penurunan daya saing produk akhir. Oleh karena itu, pengawasan ketat sejak tahap awal mutlak diperlukan untuk menjamin konsistensi mutu yang diakui pasar global.

Lebih jauh, kegiatan monev ini berfungsi ganda: selain mengawasi persemaian, juga mengevaluasi efektivitas program pembinaan petani yang telah berjalan. Pemerintah daerah berkomitmen melakukan pendampingan berkelanjutan dari hulu ke hilir—mulai pembibitan, budidaya, hingga panen—agar bantuan dan kebijakan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan riil di lapangan, bukan sekadar formalitas.

DKPP Sumenep menargetkan seluruh bibit Prancak 95 yang didistribusikan kepada petani harus memenuhi kriteria sehat, kuat, dan bebas penyakit. Standar ketat ini dirancang untuk mendorong peningkatan produksi tanpa mengorbankan kualitas, sehingga reputasi tembakau Sumenep sebagai komoditas unggulan tetap lestari.

Monitoring berkala ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam menerapkan pendekatan berbasis data dan standar teknis dalam pengelolaan komoditas strategis.

Dengan fondasi bibit yang berkualitas, Sumenep optimis mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu sentra tembakau terbaik di Indonesia, sekaligus melindungi kesejahteraan petani dari fluktuasi pasar akibat penurunan mutu produk.

(Pank’s)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *