Faruq Hanafi: Festival Sapi Sonok Jaga Tradisi Madura Tetap Hidup di Tengah Perkembangan Zaman

Radar9
9 Agu 2026 16:22
Budaya 0
2 menit membaca

SUMENEP – Keindahan, keserasian, dan kekompakan puluhan pasangan sapi menjadi pusat perhatian dalam Festival Sapi Sonok yang digelar di Stadion A. Yani Pangligur, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Festival yang menjadi bagian dari rangkaian Calendar of Event Kabupaten Sumenep 2026 tersebut menghadirkan sebanyak 30 pasang sapi sonok dari sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep. Ratusan masyarakat tampak antusias memadati lokasi untuk menyaksikan salah satu tradisi khas Madura yang sarat nilai budaya.

Berbeda dengan karapan sapi yang mengandalkan kecepatan dalam perlombaan, Sapi Sonok justru mempertontonkan pesona estetika. Setiap pasangan sapi tampil dengan berbagai aksesori khas dan berjalan di lintasan dengan menonjolkan keserasian gerak, keindahan penampilan, serta kekompakan antara kedua sapi.

Penampilan tersebut merupakan hasil persiapan para pemilik dan peserta yang tidak hanya memperhatikan kondisi fisik sapi, tetapi juga keselarasan langkah dan keindahan aksesori yang dikenakan.

Kemeriahan Festival Sapi Sonok juga semakin terasa dengan penampilan karawitan Putri Family Sumenep. Alunan musik tradisional Madura berpadu dengan suara para sinden yang menghibur masyarakat, termasuk penampilan Susmiati yang turut memeriahkan suasana festival.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruq Hanafi, S.Sos., M.Si., mengatakan Festival Sapi Sonok merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan adat istiadat Madura.

Menurutnya, di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola kehidupan masyarakat, tradisi lokal harus terus diberikan ruang agar tidak tergerus dan tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Melalui festival ini, warisan tradisi dan adat istiadat Madura tetap hidup dan dilestarikan untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Faruq menambahkan, Festival Sapi Sonok tidak hanya memiliki nilai penting dalam aspek pelestarian budaya. Kegiatan tersebut juga dinilai mampu membuka peluang pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Menurutnya, setiap kegiatan budaya yang dikemas secara menarik dan berkelanjutan dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan untuk datang ke Sumenep.

“Pariwisata yang dihasilkan akan memberikan pendapatan bagi masyarakat setempat dan mendukung kegiatan ekonomi lokal,” katanya.

Melalui Festival Sapi Sonok, Pemerintah Kabupaten Sumenep berupaya menjadikan tradisi lokal tidak sekadar sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai bagian dari identitas daerah yang tetap relevan dan memiliki nilai ekonomi.

Ke depan, Festival Sapi Sonok diharapkan terus menjadi agenda budaya yang konsisten digelar di Kabupaten Sumenep. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, festival ini juga menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya Madura kepada generasi muda serta memperkuat posisi Sumenep sebagai salah satu daerah yang terus menjaga dan merawat tradisi lokalnya.

(Redaksi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *