Ketika Karnaval Bergeser Menjadi Diskotik Jalanan

Radar9
28 Agu 2026 04:49
Berita 0
2 menit membaca

Oleh: Ismail Rahmat

OPINI (RADAR9.ID) – Karnaval budaya pada hakikatnya merupakan ruang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi, seni, dan identitas daerah kepada masyarakat. Di dalamnya terdapat nilai edukasi, pelestarian budaya, kreativitas, hingga penguatan kebersamaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang patut menjadi perhatian bersama: sebagian karnaval mulai bergeser dari panggung budaya menjadi “diskotik jalanan” yang lebih mengedepankan dentuman sound system berdaya besar dan aksi joget massal.

Fenomena ini bukan sekadar soal selera hiburan. Pergeseran tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah esensi karnaval masih bertumpu pada pelestarian budaya, atau justru berubah menjadi ajang kompetisi kekuatan sound system?

Tidak dapat dipungkiri, musik mampu memeriahkan suasana. Namun ketika volume suara yang memekakkan telinga menjadi daya tarik utama, sementara kostum adat, tarian tradisional, dan pesan budaya hanya menjadi pelengkap, maka tujuan awal karnaval patut dievaluasi.

Lebih memprihatinkan lagi, tidak sedikit peserta maupun penonton yang larut dalam joget-joget yang jauh dari nilai budaya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, muncul aksi yang dinilai kurang pantas dilakukan di ruang publik dan disaksikan anak-anak. Situasi ini tentu mengundang kekhawatiran para orang tua dan tokoh masyarakat.

Selain menggeser nilai budaya, penggunaan sound system berdaya tinggi juga sering menimbulkan gangguan bagi masyarakat sekitar. Suara yang berlebihan dapat mengganggu warga lanjut usia, anak-anak, hingga orang yang sedang sakit. Di sisi lain, semangat kompetisi antarkelompok terkadang lebih berorientasi pada siapa yang memiliki sound system paling besar daripada siapa yang mampu menampilkan budaya paling menarik.

Kritik terhadap fenomena ini bukan berarti menolak hiburan atau kreativitas generasi muda. Justru sebaliknya, kreativitas harus diarahkan agar tetap berpijak pada nilai-nilai budaya lokal. Karnaval dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan identitasnya.

Pemerintah daerah sebagai penyelenggara maupun pemberi izin memiliki tanggung jawab untuk menyusun regulasi yang jelas. Penilaian sebaiknya lebih menitikberatkan pada unsur seni, budaya, kreativitas, dan edukasi, bukan pada kemegahan perangkat audio. Pembatasan tingkat kebisingan, pengawasan terhadap konten hiburan, serta pelibatan budayawan dan seniman lokal juga menjadi langkah penting agar karnaval kembali pada ruhnya.

Budaya bukan sekadar tontonan, melainkan warisan yang harus dijaga. Jangan sampai anak-anak mengenal karnaval hanya sebagai pesta joget di jalan raya, tetapi lupa bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai.

Sudah saatnya semua pihak melakukan refleksi. Karnaval seharusnya menjadi panggung kebudayaan yang membanggakan, bukan berubah menjadi diskotik jalanan yang perlahan mengikis makna dan identitas budaya itu sendiri.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *