Suami Warga Panaongan Berterima Kasih kepada Bupati dan Direktur RSUD Usai Persalinan Istri Terbantu UHC

Radar9
23 Agu 2026 19:44
4 menit membaca

SUMENEP Keterbatasan ekonomi membuat Ahmad Junaidi (38) dan istrinya, Hulwatun Faridah (41), harus menghadapi proses persalinan dengan penuh kekhawatiran. Warga Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, tersebut datang ke rumah sakit dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas.

Saat menjalani persalinan, pasangan tersebut hanya membawa uang sekitar Rp100 ribu. Uang itu pun bukan untuk membayar biaya persalinan, melainkan sebagai bekal memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di rumah sakit.

Di tengah kondisi tersebut, keluarga kecil ini mendapatkan kemudahan pelayanan kesehatan melalui Program Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Sumenep.

Bagi Ahmad, keberadaan program UHC menjadi pertolongan penting bagi keluarganya. Sebab, dengan kondisi ekonomi yang terbatas, mereka akan kesulitan apabila harus menanggung sendiri biaya pelayanan persalinan.

“Kalau harus membayar sendiri, kami pasti sangat kesulitan. Kami datang hanya membawa uang sekitar Rp100 ribu, itu untuk kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, dengan adanya UHC kami bisa mendapatkan pelayanan kesehatan,” ujar Ahmad. Minggu (23/8/2026).

Rasa khawatir pasangan tersebut akhirnya berubah menjadi kebahagiaan setelah Hulwatun berhasil melahirkan bayi laki-laki dengan selamat pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Hulwatun sendiri merupakan perempuan asal Purbalingga yang kini tinggal bersama suaminya di Desa Panaongan. Sementara Ahmad merupakan warga asli Panaongan.

Hingga Minggu, 23 Agustus 2026, Hulwatun dan bayinya masih menjalani perawatan di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Keduanya masih menunggu hasil pemeriksaan dan keputusan dokter sebelum diperbolehkan pulang ke kampung halaman.

Bagi Ahmad, kelahiran anaknya menjadi kebahagiaan yang sulit digambarkan. Di sisi lain, ia juga merasa lega karena keluarganya memperoleh pelayanan kesehatan tanpa harus terbebani persoalan biaya sesuai mekanisme UHC.

Setelah merasakan langsung manfaat program tersebut, Ahmad secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Erliyanti, M.Kes., beserta seluruh jajaran dan tenaga kesehatan yang telah memberikan pelayanan kepada istrinya dan bayi mereka.

“Terima kasih kepada Bapak Bupati Sumenep dan Ibu Direktur RSUD beserta seluruh jajaran. Kami sangat terbantu dengan adanya program UHC ini. Bagi kami masyarakat yang kondisi ekonominya terbatas, program seperti ini sangat berarti,” kata Ahmad.

Ia mengaku bukan hanya persoalan pembiayaan yang membuat keluarganya merasa terbantu. Sikap ramah dan pelayanan tenaga kesehatan selama berada di rumah sakit juga membuat dirinya dan sang istri merasa lebih tenang.

“Pelayanannya juga baik dan ramah. Kami merasa diperhatikan dan dilayani dengan baik. Itu membuat kami merasa nyaman selama istri menjalani persalinan dan perawatan,” ujarnya.

Ahmad berharap program UHC terus dipertahankan sehingga masyarakat kurang mampu lainnya tidak perlu takut mendapatkan pelayanan kesehatan ketika menghadapi kondisi darurat maupun kebutuhan medis.

Program Universal Health Coverage Kabupaten Sumenep mulai diberlakukan sejak 7 November 2022. Program tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi keluarga Ahmad dan Hulwatun, manfaat UHC terasa nyata ketika mereka berada dalam situasi yang paling membutuhkan.

Kondisi mereka yang hanya memiliki uang Rp100 ribu untuk kebutuhan sehari-hari menunjukkan betapa terbatasnya kemampuan ekonomi keluarga tersebut. Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat mereka kehilangan kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

Pengalaman itu pula yang membuat Ahmad menilai keberadaan UHC sangat penting bagi masyarakat kecil.

“Semoga program ini terus berjalan dan semakin baik. Karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan seperti kami,” katanya.

Kini, Ahmad dan Hulwatun tinggal menunggu keputusan dokter sebelum membawa anggota baru keluarga mereka pulang ke Panaongan.

Bagi pasangan tersebut, kelahiran seorang bayi laki-laki bukan hanya membawa kebahagiaan baru. Peristiwa itu juga meninggalkan pengalaman tentang bagaimana sebuah program pemerintah dapat menjadi penolong ketika sebuah keluarga berada dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.

Di saat hanya Rp100 ribu yang mereka miliki untuk bertahan selama kebutuhan sehari-hari, UHC menjadi jembatan bagi keluarga tersebut untuk mendapatkan pelayanan persalinan dan perawatan yang mereka butuhkan.

(Syah/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *