Bukan Sekadar Riset, UNIBA Madura Dorong Limbah Peternakan Jadi Produk Komersial Berbasis Teknologi

Radar9
11 Agu 2026 16:21
4 menit membaca

SUMENEP – Kotoran hewan yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah ternyata menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar. Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura) mendorong agar limbah peternakan tersebut tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan, tetapi diolah menjadi produk bernilai guna melalui pengembangan biokompos dan pupuk organik cair (POC).

Gagasan tersebut dipaparkan dalam kegiatan presentasi dan diskusi bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep. Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas peluang pemanfaatan sumber daya lokal melalui inovasi teknologi yang dapat diterapkan langsung di sektor pertanian.

Kegiatan itu dihadiri Sekretaris BRIDA Sumenep, Kepala BRIDA Bintoro, perwakilan Dinas Pertanian, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, serta jajaran staf BRIDA Sumenep.

Sementara dari UNIBA Madura hadir tim yang terdiri dari Dr. (C) Budyi Suswanto, MT, Dr. Bambang Sugiyono Agus Purwono, MSc, Novi Wahyuningtyas, MT, Siti Umyana, MM, Alief, S.Kom, Ir. Awiyanto, MM, dan Deni.

Dalam pemaparannya, Budyi Suswanto menyoroti besarnya potensi kotoran hewan untuk dikembangkan menjadi bahan yang bermanfaat bagi pertanian. Melalui proses pengolahan yang tepat, limbah peternakan dapat diarahkan menjadi biokompos dan pupuk organik cair.

Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya berbicara mengenai pengolahan limbah, tetapi juga bagaimana menciptakan produk yang mampu memberikan manfaat langsung bagi sektor pertanian sekaligus membantu mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas peternakan.

Sementara itu, Bambang SAP menilai pengembangan pupuk berbasis limbah organik memiliki peluang strategis bagi Sumenep. Hal tersebut tidak terlepas dari besarnya aktivitas masyarakat di sektor pertanian dan peternakan.

Dengan dukungan teknologi tepat guna, kotoran hewan atau kohe dapat diubah dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Pembahasan tidak hanya berhenti pada proses produksi. Aspek legalitas dan standar mutu pupuk organik juga menjadi perhatian penting dalam diskusi tersebut.

Izin edar dan pemenuhan standar mutu dinilai menjadi tahapan yang tidak bisa diabaikan apabila produk hasil inovasi tersebut nantinya akan dikembangkan secara lebih luas dan dimanfaatkan masyarakat.

Artinya, inovasi tidak cukup hanya menghasilkan produk yang dianggap bermanfaat. Produk tersebut juga harus memenuhi ketentuan yang berlaku agar memiliki kepastian dari sisi kualitas, keamanan, maupun legalitas ketika masuk ke masyarakat.

Di sisi lain, Novi Wahyuningtyas memaparkan gagasan pengembangan demonstration plot (demplot) sebagai tahapan untuk menguji efektivitas produk secara langsung di lapangan.

Melalui demplot, penggunaan biokompos dan POC dapat diuji pada tanaman sehingga manfaat produk dapat diamati secara nyata. Demplot sekaligus dapat menjadi media pembelajaran bagi petani dan masyarakat sebelum produk dikembangkan dalam skala yang lebih luas.

Namun, inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada keberhasilan teknis semata.

Siti Umyana menegaskan bahwa hasil inovasi harus memiliki nilai ekonomi.

“Inovasi yang berhasil haruslah menghasilkan uang,” tegasnya dalam diskusi tersebut.

Pernyataan itu menjadi salah satu penekanan bahwa riset dan inovasi harus diarahkan hingga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Peluang kerja sama antara BRIDA Sumenep dan UNIBA Madura juga menjadi salah satu poin penting dalam diskusi.

Ir. Awiyanto, MM, mendorong agar kolaborasi tersebut tidak berhenti pada presentasi atau forum diskusi. Kerja sama diharapkan dapat dilanjutkan melalui riset, pengembangan produk, pengujian lapangan, pendampingan masyarakat hingga proses hilirisasi.

Dengan pola tersebut, inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat benar-benar diterjemahkan menjadi solusi yang dapat digunakan masyarakat.

Tidak hanya pengolahan limbah, aspek teknologi juga mulai diarahkan untuk mendukung proses pengembangan dan monitoring.

Alief yang fokus pada teknologi Internet of Things (IoT) menyampaikan gagasan pemanfaatan teknologi tersebut untuk melakukan monitoring. Integrasi IoT diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan inovasi agar proses pemantauan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berbasis data.

Kolaborasi tersebut dinilai memiliki peluang besar karena mempertemukan kekuatan riset perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan daerah dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Pengembangan biokompos dan POC berbahan dasar kotoran hewan menjadi gambaran bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi.

Jika dikembangkan secara berkelanjutan, inovasi tersebut berpotensi memberikan manfaat ganda bagi Sumenep. Di satu sisi membantu mengurangi persoalan limbah peternakan, sementara di sisi lain membuka peluang terciptanya produk pupuk organik yang dapat mendukung sektor pertanian.

Karena itu, sinergi antara UNIBA Madura, BRIDA Sumenep, perangkat daerah terkait dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan inovasi tidak berhenti di ruang presentasi.

Tahapan riset, pengujian, demplot, pemenuhan legalitas, pendampingan hingga hilirisasi menjadi rangkaian yang perlu dilakukan agar inovasi benar-benar memberikan dampak.

Dengan pendekatan tersebut, kotoran hewan yang selama ini identik dengan limbah berpotensi berubah menjadi sumber daya baru dari persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi, dari hasil riset menjadi produk, dan dari inovasi menjadi manfaat nyata bagi masyarakat Sumenep.

(Pank’s/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *