Potret: Kepala DKPP Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, saat menyampaikan program penguatan sektor pertanian dan modernisasi alat mesin pertanian (alsintan).SUMENEP – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep mengalokasikan dukungan anggaran sebesar Rp4,9 miliar pada 2026 untuk memperkuat sektor pertanian, mulai dari optimalisasi program berbasis Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) hingga modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui DKPP untuk meningkatkan produktivitas usaha tani, memperkuat efisiensi kerja petani, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sektor pertanian.
Dari total anggaran tersebut, sebesar Rp3 miliar bersumber dari DBHCHT, sedangkan Rp1,9 miliar dialokasikan untuk modernisasi alsintan. Dukungan ini diharapkan mampu memperkuat sarana produksi sekaligus membantu kelompok tani menghadapi tantangan dalam pengelolaan usaha tani.
Kepala DKPP Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, menegaskan bahwa pemanfaatan anggaran diarahkan untuk mendukung program yang tepat sasaran, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
Menurutnya, pelaksanaan setiap kegiatan dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan ketentuan administrasi serta mekanisme pengelolaan anggaran yang berlaku.
“Setiap kegiatan dilaksanakan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku. Kami juga melakukan pemantauan terhadap realisasi anggaran agar pelaksanaan program berjalan sesuai perencanaan,” ujarnya. Jum’at (9/10/26).
Salah satu fokus dukungan DKPP Sumenep pada 2026 adalah modernisasi sarana pertanian melalui pengadaan peralatan yang direncanakan disalurkan dalam bentuk hibah kepada sejumlah kelompok tani di wilayah Kabupaten Sumenep.
Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang berbagai tahapan usaha tani, khususnya pengolahan lahan dan pekerjaan pertanian lainnya yang membutuhkan dukungan peralatan memadai.
Pemanfaatan teknologi pertanian dinilai penting untuk membantu petani meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga, sekaligus mengoptimalkan proses produksi dari tahap prapanen hingga pascapanen.
Dengan dukungan alsintan yang lebih modern, kelompok tani diharapkan mampu mengelola kegiatan pertanian secara lebih efektif. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari langkah memperkuat kapasitas petani agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi di sektor pertanian.
“Dengan dukungan peralatan yang lebih modern, kami berharap petani dapat mengelola usaha taninya secara lebih efektif dan mengoptimalkan hasil produksi,” ungkap Chainur.
Selain modernisasi alsintan, DKPP Sumenep juga mengoptimalkan pemanfaatan anggaran DBHCHT untuk mendukung sejumlah program strategis di bidang pertanian dan ketahanan pangan.
Pengawasan terhadap pelaksanaan program dan realisasi anggaran dilakukan secara berkala untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan kegiatan.
Evaluasi serta pembaruan laporan, termasuk pada triwulan ketiga 2026, menjadi bagian dari upaya memantau perkembangan penyerapan anggaran sekaligus memastikan data yang dilaporkan sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Bagi DKPP Sumenep, pengelolaan anggaran tidak semata-mata berorientasi pada tingkat penyerapan, tetapi juga harus memperhatikan ketepatan pelaksanaan kegiatan dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
Prinsip transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan menjadi aspek penting agar dukungan anggaran pemerintah dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai peruntukannya.
Chainur Rasyid menambahkan, penguatan sarana produksi dan dukungan program pertanian merupakan bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi daerah melalui peningkatan kapasitas sektor pertanian.
Produktivitas yang lebih baik dan efisiensi biaya operasional diharapkan dapat membuka peluang bagi peningkatan pendapatan petani serta memperkuat keberlanjutan usaha tani di Kabupaten Sumenep.
Melalui dukungan anggaran Rp4,9 miliar pada 2026, DKPP Sumenep berupaya memastikan program pertanian tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga memiliki arah yang jelas dalam mendukung kebutuhan petani.
Sinergi antara pengelolaan anggaran yang akuntabel, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kelompok tani diharapkan menjadi fondasi bagi pembangunan pertanian Sumenep yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
(Redaksi)
Tidak ada komentar