Forpensi Dibentuk, Sumenep Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Tingkatkan Cakupan Imunisasi

Radar9
27 Agu 2026 19:24
3 menit membaca

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) membentuk Forum Peduli Imunisasi (Forpensi) sebagai langkah memperkuat dukungan lintas sektor terhadap pelaksanaan program imunisasi di masyarakat.

Pembentukan Forpensi dilakukan dalam pertemuan yang digelar Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep di salah satu hotel di Sumenep, Kamis (27/8/2026).

Forum ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari organisasi profesi, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat hingga pihak terkait lainnya.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, mengatakan keberhasilan imunisasi membutuhkan dukungan bersama karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.

“Kita membutuhkan support system, dukungan bersama, bagaimana imunisasi yang ada di Kabupaten Sumenep ini bisa kita laksanakan. Pemerintah tidak mungkin bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,” ujarnya.

Menurut Ellya, imunisasi menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Karena itu, Forpensi diharapkan mampu menyatukan berbagai kekuatan untuk memperluas dukungan terhadap program tersebut.

Pembentukan forum juga menjadi bagian dari evaluasi atas pengalaman penanganan kasus Campak yang sebelumnya mendapat perhatian. Dari pengalaman tersebut, Dinkes P2KB melihat pentingnya pendekatan kolaboratif ketika menghadapi persoalan kesehatan di tengah masyarakat.

“Kita lebih fokus pada pendekatan. Kemarin juga kita belajar dari kasus Campak. Jadi ada hikmah yang kita ambil pada saat kasus ini. Kemarin banyak yang membantu kita,” tutur Ellya.

Selain memperkuat pelaksanaan di tingkat pelayanan kesehatan, Forpensi diarahkan untuk membantu memperluas edukasi dan komunikasi kepada masyarakat. Hal ini dinilai penting karena masih terdapat kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap imunisasi.

Ellya menyebut salah satu kekhawatiran yang masih muncul adalah anggapan bahwa anak akan sakit setelah menerima imunisasi.

“Yang pasti adalah ketakutan anak itu sakit. Imunisasi itu dianggap membuat kita sakit terus-terusan. Itu mungkin yang menjadi kekhawatiran masyarakat,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam meningkatkan penerimaan masyarakat. Karena itu, komunikasi dan edukasi menjadi bagian penting untuk memberikan pemahaman mengenai manfaat imunisasi sekaligus menjawab kekhawatiran yang berkembang.

Dalam forum tersebut, masing-masing unsur diharapkan mengambil peran sesuai kapasitasnya, baik dalam penyampaian informasi, edukasi maupun penguatan gerakan imunisasi di lingkungan masyarakat.

Pertemuan pembentukan Forpensi turut menghadirkan fasilitator UNICEF Indonesia, Dita Ramadonna, yang memandu proses kolaborasi antarpihak, termasuk pembahasan mengenai pembagian peran dalam mendukung gerakan imunisasi di Kabupaten Sumenep.

Dengan terbentuknya Forpensi, Dinkes P2KB berharap dukungan terhadap imunisasi semakin luas, terarah dan terkoordinasi. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang komunikasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat dan unsur lainnya.

Ke depan, keberhasilan imunisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan masyarakat, kualitas komunikasi serta kuatnya dukungan lintas sektor.

Pembentukan Forpensi menjadi langkah awal Pemkab Sumenep untuk menyatukan berbagai kekuatan tersebut dalam satu gerakan bersama guna memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat melalui imunisasi.

(Syah/Redaksi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *