Potret: Tangkapan layar tiktok adu argumen antara keluarga pasien dan tenaga kesehatan di RS BHC Sumenep dalam video yang viral di akun TikTok @patah.tpi.kuat.SUMENEP – Dugaan memburuknya kondisi pasien Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep setelah menerima suntikan hingga berujung kematian memicu protes keluarga.
Mereka mempertanyakan prosedur pemberian obat dan respons tenaga kesehatan ketika kondisi pasien dilaporkan mengalami penurunan secara mendadak.
Persoalan tersebut menjadi sorotan setelah video adu argumen antara keluarga pasien dan seorang perawat beredar di media sosial. Rekaman yang diunggah akun TikTok @patah.tpi.kuat itu memperlihatkan keluarga meminta penjelasan atas tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien.
Berdasarkan narasi pengunggah, kondisi pasien sebelumnya disebut membaik dan diklaim telah mendapat izin dokter untuk menjalani rawat jalan. Namun, pasien dilaporkan mengalami kejang, disertai keluarnya busa dan air liur dalam jumlah banyak, setelah menerima suntikan.
“Pas setelah disuntik langsung keluar busa sama liur banyak dan kejang-kejang,” tulis pemilik akun dalam tanggapan terhadap komentar warganet, sebagaimana dilihat redaksi kliktimes.id, Rabu (14/10/2026).
Keterangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai jenis obat, dosis, serta kemungkinan hubungan antara pemberian suntikan dan perubahan kondisi pasien. Meski demikian, informasi yang beredar belum cukup untuk memastikan penyebab kejang maupun kematian pasien.
Selain mempertanyakan pemberian obat, keluarga juga menyoroti tindakan perawat ketika pasien dilaporkan mengalami muntah-muntah. Dalam video yang beredar, seorang pria yang diduga mewakili keluarga pasien mempertanyakan alasan aliran infus dimatikan dan pasien ditinggalkan dalam kondisi tersebut.
“Mbak, dengan kondisi pasien muntah-muntah, infus dimatikan, lalu mbak tinggalkan? Pasien dalam keadaan muntah, mbak tinggalkan? Maksud mbak gimana jadi perawat? Ayo jawab!” ujar pria tersebut dengan nada tinggi.
Perawat yang mengenakan seragam biru dan kerudung abu-abu itu kemudian memberikan penjelasan dengan didampingi petugas keamanan. Ia menyatakan bahwa pemberian obat dilakukan secara bertahap dan mengaku telah menjelaskan fungsi obat kepada pasien.
“Setiap saya ngasih obat, saya bilang kepada pasiennya, ini untuk penghilang muntahnya, sementara obat penghilang nyerinya saya masukkan terakhir,” tuturnya dalam rekaman tersebut.
Pernyataan itu menjadi bagian dari informasi yang perlu diklarifikasi lebih lanjut, terutama terkait urutan pemberian obat, kondisi pasien saat tindakan dilakukan, serta langkah penanganan ketika pasien mengalami gejala yang dilaporkan keluarga.
Informasi awal dalam unggahan media sosial menyebut pasien dijadwalkan menerima suntikan pereda nyeri lambung sekitar pukul 17.00 WIB. Namun, jenis dan dosis obat, waktu pasti munculnya gejala, serta rangkaian tindakan medis sebelum pasien meninggal dunia belum dijelaskan secara menyeluruh.
Dugaan keluarga mengenai kemungkinan kekeliruan pemberian obat atau dosis masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan medis. Karena itu, hubungan antara penyuntikan, munculnya kejang, dan kematian pasien tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan video maupun keterangan yang beredar di media sosial.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari manajemen RS BHC Sumenep mengenai kronologi lengkap penanganan pasien, jenis obat yang diberikan, maupun penyebab pasti kematian.
Klarifikasi rumah sakit menjadi penting untuk menjawab pertanyaan keluarga sekaligus memberikan informasi yang berimbang kepada publik. Penelusuran melalui rekam medis, catatan pemberian obat, keterangan tenaga kesehatan yang bertugas, serta pemeriksaan oleh pihak berwenang diperlukan untuk memastikan fakta kejadian.
Dengan demikian, dugaan adanya kekeliruan atau kelalaian dalam penanganan pasien perlu ditempatkan sebagai persoalan yang masih harus ditelusuri, bukan sebagai kesimpulan sebelum bukti dan hasil pemeriksaan yang berwenang tersedia.
Penulis : Redaksi
Sumber : Kliktime.id
Tidak ada komentar