Potret: Petugas DLH Sumenep saat membersihkan sampah di sepanjang rute Festival Musik Tongtong hingga dini hari, Minggu (6/9/2026), mulai pukul 02.45 WIB hingga pagi sekitar pukul 06.15 WIB.SUMENEP – Gemuruh musik tongtong dan antusiasme ribuan masyarakat mewarnai Festival Musik Tongtong Se-Madura 2026 di Kabupaten Sumenep. Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada kerja senyap yang memastikan pesta budaya itu tetap meninggalkan lingkungan yang bersih.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep mengerahkan jajaran petugas kebersihan untuk mengawal langsung jalannya festival. Petugas bergerak mengikuti rute 27 grup peserta, mengambil posisi di belakang rombongan untuk memungut sampah yang ditinggalkan sepanjang perjalanan.
Botol plastik, kemasan makanan, kertas hingga berbagai jenis sampah lainnya dikumpulkan secara bertahap. Bahkan ketika pertunjukan berakhir dan sebagian besar masyarakat telah meninggalkan lokasi, petugas DLH masih bekerja hingga pagi untuk memastikan ruas jalan yang menjadi lintasan festival kembali bersih.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Kepala DLH Sumenep Anwar Syahroni Yusuf dalam menjaga kebersihan pada setiap kegiatan berskala besar yang melibatkan masyarakat.
Sebelum pelaksanaan festival, Anwar telah mengarahkan sekaligus menantang jajarannya agar kemeriahan Festival Musik Tongtong Se-Madura tidak menimbulkan persoalan baru berupa penumpukan sampah.
Arahan itu kemudian diwujudkan melalui pola kerja langsung di lapangan. Petugas tidak sekadar menunggu kegiatan selesai, tetapi melakukan pembersihan secara beriringan dengan pergerakan peserta.
“Kegiatan budaya harus tetap meriah, tetapi kebersihan juga harus menjadi perhatian. Karena itu, kami meminta petugas bergerak mengikuti jalur kegiatan agar sampah bisa langsung ditangani,” tegas Anwar.
Kerja tersebut mendapat perhatian dari Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Menurutnya, pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan dua hal yang tidak seharusnya dipisahkan.
Bagi Bupati Fauzi, kecintaan terhadap tradisi dan warisan leluhur tidak cukup hanya diwujudkan dengan menjaga kesenian tetap hidup. Masyarakat juga harus menjaga lingkungan sebagai ruang tumbuh dan berkembangnya kebudayaan.
“Melestarikan budaya harus berjalan bersama dengan menjaga lingkungan. Budaya kita jaga, lingkungan juga harus kita rawat,” ujarnya.
Pesan tersebut mempertegas arah Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam membangun kesadaran bahwa kebersihan merupakan bagian dari kualitas penyelenggaraan kegiatan masyarakat.
Festival Musik Tongtong Se-Madura 2026 pun menjadi salah satu contoh bagaimana agenda budaya dapat berlangsung semarak tanpa mengabaikan persoalan lingkungan.
Di bawah kepemimpinan Anwar Syahroni Yusuf, DLH memastikan komitmen itu tidak berhenti pada imbauan. Para petugas membuktikannya melalui kerja nyata, dari malam hingga pagi, sampai sampah di sepanjang rute festival berhasil dikumpulkan dan lingkungan kembali tertata.
Mereka memang tidak berada di atas panggung dan tidak menjadi pusat perhatian. Namun, kerja para petugas kebersihan menjadi bagian penting dari keberhasilan festival.
Sebab, bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep, budaya yang lestari membutuhkan lingkungan yang terjaga. Semangat merawat tradisi pun harus berjalan seiring dengan kebiasaan menjaga kebersihan.
(Syah/Redaksi)
Tidak ada komentar