UWP Siapkan “Senjata” Paten untuk Dosen dan Mahasiswa, Wujudkan Riset yang Berdampak

Radar9
21 Agu 2026 08:29
3 menit membaca

SURABAYA – Ada yang berbeda di ruang pelatihan Kampi Hotel, Surabaya. Bukan sekadar seminar biasa, suasana terasa lebih serius, lebih bersemangat, dan lebih penuh harap. Puluhan dosen dan mahasiswa Universitas Wijaya Putra (UWP) duduk dengan mata berbinar, menggenggam pena dan laptop, siap mencatat setiap kata yang keluar dari mulut sang narasumber. Mereka bukan sedang mendengarkan teori biasa namun sedang belajar menciptakan masa depan.

UWP melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menggelar Workshop Drafting dan Pelatihan Paten pada Kamis 20 Agustus 2026, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Acara ini bukanlah seremoni tahunan yang hafalan. Ini adalah deklarasi perang “Inovasi tanpa perlindungan hukum ibarat pedang tanpa sarung. Tajam, tetapi berbahaya dan tidak akan pernah digunakan dengan percaya diri. Kami di UWP tidak ingin itu terjadi,” ujar Rektor UWP, Dr. Budi Endarto, SH., M.Hum., dalam sambutan pembukaannya dengan nada penuh keyakinan.

Dr. Budi menegaskan bahwa paten adalah jembatan antara dunia akademik dan dunia nyata. Selama ini publikasi ilmiah UWP sudah melesat tinggi. Hibah penelitian berdatangan. Namun, satu hal yang masih terasa timpang, hasil riset itu jarang sekali mendapatkan pengakuan hukum dan nyaris tidak pernah dihilirisasi menjadi produk yang bermanfaat bagi banyak orang.

“Sebagai Kampus Sociopreneur, kami tidak mau inovasi hanya menjadi pajangan. Kami ingin setiap ide besar mahasiswa dan dosen bertransformasi menjadi usaha sosial yang berkelanjutan dan berdampak luas. Itulah hakikat Impactful UWP,” tegasnya.

Senada dengan Rektor, Ketua LPPM UWP, Prof. Dr. Nugroho Mardi Wibowo, M.Si., menyebut bahwa pelatihan ini adalah bagian dari Program Fasilitasi Sentra Kekayaan Intelektual Hibah DRPM DIKTI 2026 sebuah langkah strategis yang tidak boleh disia-siakan. Ia menyoroti potensi besar dari Fakultas Teknik UWP yang kerap menerima hibah prototipe. Namun, prototipe tanpa paten hanya akan menjadi barang mati.

“Penelitian harus punya nyawa. Dan nyawa itu adalah perlindungan hukum. Paten adalah pintu gerbang hilirisasi. Dari sanalah inovasi bisa melompat ke industri, ke pasar, dan akhirnya ke masyarakat,” kata Prof. Nugroho dengan penuh semangat.

Di atas panggung utama, hadir sosok kunci Dr. Muhammad Zainuddin, M.Eng., pemeriksa paten ahli utama dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Dengan gaya penyampaian yang lugas namun hangat, ia membedah satu per satu rahasia di balik paten. Apa yang membuat sebuah invensi layak dipatenkan? Bagaimana menyusun deskripsi yang kuat? Di mana letak klaim yang menentukan batas perlindungan?

“Paten bukanlah sekadar pengakuan hukum. Paten adalah aset. Paten adalah senjata ekonomi. Negara maju seperti Singapura tidak kaya SDA, tetapi kaya SDM berbasis kekayaan intelektual. Indonesia harus mulai bergerak dari target pasar menjadi pemain utama,” pesan Dr. Zainuddin, menarik perhatian seluruh peserta.

Tapi pelatihan ini tidak berhenti di teori. Sesi praktik langsung menjadi momen yang paling dinanti. Para peserta diajak merancang dokumen paten dari hasil penelitian mereka sendiri. Mulai dari menyusun deskripsi invensi, merumuskan klaim yang tajam dan strategis, menulis abstrak yang efektif, hingga menentukan ruang lingkup perlindungan yang tepat. Ruangan yang awalnya hening berubah menjadi ramai oleh diskusi dan konsultasi. Satu per satu peserta maju, bertanya, dan berbagi ide dengan narasumber.

Antusiasme itu nyata. Bukan sekadar formalitas. Para dosen dan mahasiswa UWP benar-benar haus akan ilmu ini. Mereka sadar bahwa di tengah persaingan global yang kian ketat, perlindungan kekayaan intelektual adalah kunci bertahan dan berkembang. Mereka tidak ingin lagi menjadi penonton di negeri sendiri.

Dengan pelatihan ini, UWP menegaskan jati dirinya sebagai Kampus Sociopreneur. Bukan sekadar slogan, melainkan gerakan nyata. Sebuah perguruan tinggi yang menjadikan setiap riset sebagai pilar perubahan dan setiap inovasi sebagai denyut nadi kemajuan bangsa.

Ke depan, UWP optimistis dalam jumlah paten dari sivitas akademika akan terus melonjak. Dan yang lebih penting, setiap paten yang lahir akan menjadi obor penerang bagi industri, masyarakat, dan masa depan Indonesia yang lebih cerah.

( @L )

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *