Bappeda Sumenep Padukan Budaya Keraton dan Pendopo dengan Informasi Pembangunan di MNV 2026

Radar9
28 Agu 2026 00:57
3 menit membaca

SUMENEP – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep menghadirkan konsep stan yang memadukan identitas budaya lokal dengan informasi pembangunan dalam Pameran Pembangunan Madura Night Vaganza (MNV) 2026 di GOR A. Yani Pangligur.

Konsep Keraton dan Pendopo Sumenep tidak sekadar menjadi dekorasi. Keduanya digunakan sebagai bagian dari pesan yang ingin disampaikan Bappeda bahwa pembangunan daerah perlu tetap berpijak pada sejarah, budaya, data, serta aspirasi masyarakat.

Beragam informasi pembangunan dikemas melalui infografis, mulai dari visi dan misi daerah, delapan program unggulan Sumenep 2025–2029, capaian indikator pembangunan, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), hingga inovasi e-Stunting, E-SAKIP dan Peti Koin Bermantara.

Kepala Bappeda Sumenep Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng. mengatakan, pemilihan Pendopo dan ornamen Keraton memiliki makna yang berkaitan dengan proses perencanaan pembangunan.

“Pendopo merupakan ruang untuk berkumpul, bermusyawarah dan menyampaikan aspirasi. Nilai itu sejalan dengan proses perencanaan pembangunan yang membutuhkan partisipasi dan kesepakatan bersama,” kata Arif.

Sementara Keraton, lanjutnya, merepresentasikan sejarah dan jati diri Sumenep yang harus tetap menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan ke depan.

Salah satu fokus utama stan Bappeda adalah delapan program unggulan Kabupaten Sumenep periode 2025–2029. Program tersebut meliputi peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, penguatan pelayanan kesehatan, pengembangan kewirausahaan santri dan pemuda, penguatan ekonomi kawasan dan desa, pembangunan infrastruktur yang berwawasan lingkungan, tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional, penanganan persoalan sosial, serta peningkatan konektivitas menuju wilayah kepulauan.

Bappeda juga menyajikan tahapan penyusunan RKPD secara visual, mulai dari persiapan rancangan awal, forum perangkat daerah, Musrenbang RKPD Kabupaten, perumusan rancangan akhir hingga penetapan RKPD.

Menurut Arif, penyajian tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa setiap kebijakan pembangunan tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui proses berbasis data, pembahasan dan koordinasi.

“Setiap program pembangunan tentu melalui proses. Ada data, pembahasan, koordinasi dan tahapan yang harus dilalui. Kami ingin masyarakat memahami proses tersebut,” ujarnya.

Selain itu, sejumlah indikator pembangunan seperti tingkat pengangguran terbuka, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Gini turut ditampilkan sebagai bahan untuk melihat perkembangan kondisi sosial dan ekonomi daerah.

Pada sisi inovasi, Bappeda memperkenalkan e-Stunting yang mendukung pengelolaan data stunting dan penyusunan intervensi berbasis data. Sementara Peti Koin Bermantara diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi produktif masyarakat di sektor pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, perindustrian dan perdagangan.

Stan tersebut juga mendapat kunjungan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Bupati melihat berbagai materi pembangunan yang ditampilkan dan mencoba fasilitas video booth yang disediakan secara gratis bagi pengunjung MNV 2026.

Arif menilai keikutsertaan Bappeda dalam pameran menjadi ruang komunikasi langsung antara pemerintah dan masyarakat.

“Pameran ini menjadi ruang komunikasi. Masyarakat bisa melihat program, capaian dan inovasi pembangunan, sekaligus memahami bagaimana proses perencanaannya,” katanya.

Ia berharap masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi turut memberikan gagasan dan masukan dalam menentukan arah pembangunan daerah.

“Pembangunan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Masukan dan partisipasi masyarakat juga penting dalam menentukan arah pembangunan,” tegasnya.

Konsep stan Bappeda akhirnya menyatukan tiga pesan utama: Keraton sebagai simbol jati diri dan sejarah, Pendopo sebagai ruang musyawarah, serta Bappeda sebagai rumah perencanaan pembangunan.

“Keraton sebagai simbol jati diri, Pendopo sebagai ruang musyawarah, dan Bappeda sebagai rumah perencanaan. Kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan harus disusun dengan proses yang baik, berbasis data, melibatkan masyarakat dan tetap berpijak pada budaya daerah,” tutur Arif.

Madura Night Vaganza 2026 berlangsung 26 Agustus hingga 4 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian Madura Culture Fest (MCF) #4.

(Syah/Redaksi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *