SUMENEP, RADAR9.ID – Kritik pedas menghantam Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Jurnalis Sumenep Independen (JSI) mendesak orang nomor satu di Jatim tersebut untuk berhenti bersikap anti-kritik dan segera memberikan solusi nyata terhadap kerusakan parah akses jalan Pelabuhan Masalembu yang kian terbengkalai.
Kondisi pelabuhan di pulau terluar Sumenep itu dilaporkan sudah dalam tahap “darurat”. Sebagai satu-satunya pintu masuk distribusi logistik dan kebutuhan pokok, infrastruktur pelabuhan tersebut kini seperti jebakan maut bagi warga.
Lubang-lubang menganga dan beton yang hancur tidak hanya menghambat perputaran ekonomi pasca-Lebaran, tetapi juga secara terang-terangan mengancam keselamatan nyawa para penggunanya.

Ketua JSI, Igusty Mandani menegaskan bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki telinga yang jernih untuk mendengar rintihan warga, bukan justru membangun benteng defensif di balik narasi pencitraan.
“Jangan alergi kritik. Ini adalah jeritan masyarakat yang butuh aspal, bukan sekadar narasi manis di media. Rakyat butuh solusi konkret, bukan panggung pencitraan,” tegasnya dengan nada tinggi. Sabtu (28/3/2026) malam.
Ketegangan ini memuncak dipicu oleh respons Gubernur Khofifah yang dinilai tidak menyentuh substansi persoalan. Saat dikonfirmasi mengenai kerusakan jalan yang dikawal Media Jurnalis Indonesia.com, Khofifah justru memberikan jawaban melalui pesan singkat yang dianggap sebagai bentuk pengalihan isu:
“Anda nggak lihat ya mudik dan balik gratis Jangkar-Raas dan Jangkar-Sepudi. Ada baiknya Anda membaca, melihat upaya Pemprov untuk membantu masyarakat kepulauan,” tulis Khofifah.
Igusty menilai pernyataan tersebut sangat ironis dan tidak nyambung. Memberikan layanan mudik gratis di rute lain sama sekali tidak memperbaiki jalan yang hancur di Masalembu. Respons tersebut dianggap sebagai upaya “cuci tangan” atas kegagalan infrastruktur di wilayah kepulauan.
“Rakyat butuh perbaikan jalan, bukan cerita sukses di rute lain. Mengungkit mudik gratis untuk menutupi jalan rusak adalah bentuk pengalihan isu yang nyata.” Tambahnya.
Hasan, salah satu warga Masalembu, mengungkapkan rasa frustrasinya. Baginya, janji-janji politik terasa hambar selama akses utama ekonomi mereka dibiarkan hancur lebur.
“Kami mohon, segera diperbaiki. Ini urat nadi kami. Kalau terus dibiarkan rusak parah seperti ini, pemerintah seolah-olah sedang menunggu adanya korban jiwa baru bertindak,” cetusnya getir.
Kini, bola panas berada di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Masyarakat Masalembu menanti aksi nyata bukan sekadar daftar keberhasilan di tempat lain untuk memastikan kelancaran distribusi logistik dan keselamatan warga di ujung timur Jawa Timur tersebut.
Penulis : Redaksi






