PAMEKASAN, RADAR9.ID – UIN Madura tancap gas memperkuat daya saing riset nasional dengan menggelar Workshop Penyusunan Metodologi Proposal MoRA The Air Funds 2026, Kamis (2/4/2026), di Ballroom Lantai 4 kampus setempat. Kegiatan ini menjadi langkah konkret membidik hibah kompetitif hingga Rp2 miliar per tim dari Kementerian Agama RI.
Workshop tersebut dihadiri langsung jajaran pimpinan kampus mulai dari rektor, wakil rektor, ketua lembaga, dekan dan wakil dekan, ketua program studi, dosen lintas fakultas, hingga Jabatan Fungsional Tertentu (JFT). Antusiasme peserta juga meluas melalui siaran langsung di kanal YouTube MIUTV Official.
Rektor UIN Madura, Dr. Saiful Hadi, M.Pd., menegaskan bahwa peluang hibah nasional tidak boleh disia-siakan. Menurutnya, kesiapan roadmap riset, penguatan tata kelola kelembagaan, serta keberanian mengangkat tema strategis menjadi kunci utama memenangkan kompetisi.
“Kampus harus hadir dengan riset yang berdampak nyata. Kolaborasi yang kuat, metodologi yang matang, dan orientasi pada kebutuhan masyarakat adalah fondasi utama,” tegasnya.
Sementara itu, narasumber utama Dr. Ruchman Basori, S.Ag., M.Ag., menyebut MoRA The Air Funds sebagai instrumen penting dalam transformasi budaya riset di perguruan tinggi keagamaan. Ia mengidentifikasi tiga tantangan utama riset saat ini, yakni keterbatasan pendanaan, kualitas SDM peneliti, serta kecenderungan riset yang masih normatif dan belum solutif.
Namun, ia menegaskan bahwa skema pendanaan hingga Rp2 miliar menjadi peluang besar untuk menjawab persoalan tersebut.
“Ini kesempatan emas. UIN Madura harus berani pecah telur dan menjadi penerima hibah MoRA 2026,” ujarnya, disambut antusias peserta.
Lebih lanjut, Ruchman menekankan pentingnya riset yang membumi dan berdampak terukur, baik dalam aspek sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, hingga pembangunan nasional. Tema proposal pun diarahkan pada isu prioritas nasional seperti penanggulangan kemiskinan, peningkatan kualitas SDM, ekonomi berkelanjutan, pendidikan, lingkungan, dan pelayanan keagamaan.
Ia juga membuka peluang luas lintas klaster riset, mulai dari sains dan teknologi, sosial humaniora, kesehatan, pendidikan, agama, hingga ekonomi kreatif. Setiap tim didorong menghasilkan luaran konkret seperti jurnal internasional bereputasi, hak kekayaan intelektual, model kebijakan, hingga prototipe inovasi yang bisa diimplementasikan.
Di sisi teknis, Hendro Dwi Antoro, S.H., C.Med., menyoroti pentingnya konsistensi proposal. Ia mengingatkan bahwa banyak proposal gagal bukan karena lemah secara akademik, tetapi minim pada aspek implementasi dan kemitraan.
“Proposal harus solid dari tema, metodologi, luaran, hingga mitra pengguna. Keterlibatan pemerintah daerah, lembaga, atau industri akan memperkuat nilai proposal di mata reviewer,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa anggaran harus proporsional dan sejalan dengan desain riset, mengingat skema ini menilai proposal berskala besar dengan dampak luas, bukan sekadar riset individual.
Workshop ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi lintas fakultas dalam membangun proposal multidisipliner berbasis pendekatan multi-helix, yang melibatkan kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat.
Melalui penguatan metodologi dan strategi kemitraan ini, UIN Madura optimistis mampu meningkatkan jumlah proposal yang lolos pendanaan MoRA The Air Funds 2026. Lebih dari itu, kampus berharap dapat melahirkan inovasi riset yang tidak hanya kompetitif secara nasional, tetapi juga memperkuat reputasi akademik di kancah internasional.
Penulis : Poenk's
Editor : Redaksi






