SUMENEP, RADAR9.ID – Meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat selama bulan suci Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri membuat potensi peredaran uang palsu perlu diwaspadai bersama.
Hal itu disampaikan Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, H. Hairil Fajar, saat ditemui dan diwawancarai Pimpinan Redaksi RADAR9.ID di ruang kerjanya, Jumat (27/2/2026).
Menurut Hairil Fajar, kebutuhan uang tunai masyarakat untuk persiapan Lebaran mengalami peningkatan signifikan dibanding bulan-bulan biasa. Tingginya transaksi tersebut, kata dia, turut membuka celah bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan uang palsu.
“Kalau diukur dari tensi kebutuhan ekonomi masyarakat, Ramadan dan menjelang Lebaran memang jauh lebih tinggi. Karena itu kewaspadaan terhadap potensi uang palsu harus kita tingkatkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Bank Indonesia telah memberikan panduan sederhana kepada masyarakat untuk mengenali keaslian uang rupiah melalui metode 3D, yakni Dilihat, Diraba, dan Diterawang.
Pertama, uang dapat dikenali dengan cara dilihat, terutama dari ketajaman warna dan keberadaan benang pengaman. Uang asli memiliki warna yang lebih tegas dan tidak tampak buram.
Kedua, dengan diraba. Uang asli terasa lebih kasar pada bagian tertentu karena dicetak menggunakan teknik khusus.
Ketiga, diterawang untuk memastikan adanya tanda air (watermark) dan elemen pengaman lain yang hanya terlihat saat diterawang ke arah cahaya.
Hairil Fajar berharap masyarakat lebih teliti saat bertransaksi, terutama di pusat-pusat keramaian dan pasar musiman selama Ramadan. Ia juga mengimbau agar masyarakat segera melapor ke pihak berwenang atau perbankan jika menemukan uang yang diragukan keasliannya.
“Kami berharap masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada. Kenali cirinya, pastikan keasliannya, sehingga aktivitas ekonomi menjelang Lebaran tetap aman dan lancar,” pungkasnya.
Penulis : Ibnu Hajar
Editor : Redaksi






