SUMENEP, RADAR9.ID – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pasongsongan menegaskan komitmennya dalam mempercepat swasembada pangan nasional melalui partisipasi aktif dalam Rapat Koordinasi (Rakor) di Kota Batu, Malang, 6–8 Februari 2026. Fokus utamanya adalah swasembada pangan berbasis ekologi dan kemandirian ekonomi.
Bukan sekadar mengejar angka, strategi yang digodok dalam rakor ini menitikberatkan pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Tujuannya jelas, yakni memaksimalkan lahan agar komoditas padi dan jagung tidak lagi sekadar tumbuh, tapi berproduksi secara optimal sepanjang tahun.
Koordinator Penyuluh (Korluh) BPP Pasongsongan, Ahmad Molyono, S.P., M.M.A., menyatakan bahwa para penyuluh kini dibekali strategi pendampingan yang lebih agresif untuk mengubah pola pikir petani.
“Kami dorong petani untuk berani meningkatkan frekuensi tanam. Jika sebelumnya hanya sekali setahun, target kita adalah dua kali tanam. Ini bukan cuma soal menambah stok pangan, tapi langsung berdampak pada tebalnya dompet petani,” tegas Molyono.
Ada satu poin krusial yang menjadi pembeda dalam program ini, yakni konsep “Taubat Ekologi”. Molyono menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas tidak boleh merusak bumi. Petani diajak kembali pada praktik pertanian yang selaras dengan alam demi menjaga keberlanjutan lahan.
“Kami tidak hanya bicara soal tonase panen. Kami bicara soal kesejahteraan yang berkelanjutan dan bernilai keberkahan. Inilah mengapa kolaborasi lintas sektor menjadi harga mati untuk mencapai swasembada,” tambahnya.
Sejalan dengan arahan Presiden RI, BPP Pasongsongan berharap semangat ini menular kepada seluruh petani di wilayahnya. Keberhasilan program ini bergantung pada sinergi kuat antara penyuluh, pemerintah, Kementerian Agama, hingga mitra usaha.
Dengan model kolaborasi ini, Pasongsongan diharapkan menjadi pilot project di Jawa Timur dalam mewujudkan desa yang mandiri secara ekonomi, tangguh secara pangan, dan tetap lestari secara lingkungan.
Penulis : Ibnu Hajar






