Sumenep — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uniba Madura bersama Komunitas Muda Madura menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau sebagai Arah Baru Ekonomi Madura” di Auditorium Jagha Tembhe, Kamis, 27 November 2025. Kegiatan yang diawali dengan seremonial kampus ini mempertemukan pemerintah daerah, pelaku industri, petani tembakau, akademisi, jurnalis, paguyuban rokok, masyaikh, hingga anggota DPRD dalam satu forum strategis.
Achsanul Qosasi meminta Uniba Madura untuk mengambil peran strategis dalam penyusunan riset, naskah akademik, dan advokasi kebijakan.
“Saya minta Pak Rektor Uniba berada di barisan terdepan. Madura membutuhkan kampus yang bukan hanya mengajar, tetapi membela rakyatnya. Kuncinya ada di Pamekasan dan Sumenep.” katanya.
Ia menegaskan bahwa perjuangan KEK harus berbasis data dan kajian yang komprehensif. “Ini bukan hanya gagasan, ini permohonan rakyat Madura,” tandasnya.
Ia menargetkan naskah akademik selesai pada 30 Desember untuk dibawa ke Jakarta dan disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur pada Januari.
Pada sesi pembukaan, prakata panitia disampaikan oleh Moh Iskil El Fatih, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri BEM KM Uniba Madura. Iskil menekankan bahwa inisiatif FGD ini lahir dari kesadaran generasi muda akan urgensi memperjuangkan tembakau sebagai kekuatan strategis ekonomi lokal.
“Hari ini kita tidak sekadar duduk dan mendengarkan. Kita sedang merawat sebuah mimpi bersama: mimpi tentang keadilan bagi petani, mimpi tentang Madura yang berdiri di atas kakinya sendiri,” ujarnya.
Iskil menegaskan bahwa mahasiswa harus hadir sebagai motor gagasan, bukan hanya pelengkap dalam isu-isu pengembangan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa forum ini adalah bentuk kesadaran bahwa Pulau Madura harus diperjuangkan dengan serius dan berbasis data.

“Ini bukan sekadar acara. Ini adalah doa yang kita wujudkan menjadi masa depan Pulau Madura. Madura sudah terlalu lama berada di pinggir tata niaga tembakau. Kita ingin memastikan masa depan itu tidak dirumuskan tanpa suara anak mudanya,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa perjuangan KEK Tembakau memerlukan keberanian intelektual.
“Kita tidak turun ke jalan hari ini, tetapi kita sedang menyusun jalan itu. Jalan yang berisi data, riset, konsep, dan langkah strategis. Jika Madura ingin memiliki KEK Tembakau, maka kita harus menjadi generasi yang menuliskan naskahnya dan memperjuangkannya,” ungkapnya.






